KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang telah memberikan berkah dan kekuatan untuk menyusun makalah ini.

Dalam kehidupan sehari-hari kita sering menjumpai apa yang namanya koloid. Sistem koloid banyak terdapat disekitar kita, hanya saja kita yang tidak mengetahui konsep dan jenis-jenis koloid ini. Contohnya saja susu mayonnaise, tinta, dan masih banyak lagi contoh disekitar kita yang cukup mudah untuk didapati.

Selain itu, koloid juga mempunyai sifat-sifat yang khas. Dan cukup mengagetkan bahwa polusi udara adalah salah satu bentuk dari sistem koloid ini.

Semoga dengan makalah ini, para pembaca dapat lebih banyak mengetahui apa yang dimaksud dengan koloid, dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.

Bitung, mei 2011

penulis

Koloid dapat didefinisikan sebagai system heterogen , dimana suatu zat “didispersikan (campuran)” kedalam suatu media yang homogen. Dispersi berarti tersebar merata pada dua fase. Nah, fase yang dimaksud disini adalah:

  • Terdispersi (terlarut), yaitu zat yang didispersikan dalam ukuran tertentu
  • Pendispersi (pelarut), yaitu medium yang digunakan untuk mendispersikan.

Nama koloid diberikan oleh Thomas graham pada tahun 1861. Istilah itu berasal dari bahasa yunani, yaitu “koola” dan “oid”. Kola berarti lem, sedangkan oid berarti seperti. Dalam hal ini, yang dikaitkan dengan lem adalah sifat difusinya, sebab system koloid mempunyai nilai difusi yang rendah seperti lem.

sistem koloid adalah suatu bentuk campuran yang keadaannya terletak antara larutan dan suspensi (campuran kasar). Sistem koloid ini mempunyai sifat-sifat khas yang berbeda dari sifat larutan maupun suspensi. Keadaan koloid bukan cirri dari zat tertentu karena semua zat, baik padat, cair maupun gas, dapat dibuat dalam keadaan koloid.

System koloid perlu dipelajari, karena berkaitan erat dengan hidup dan kehidupan kita sehari-hari. Cairan tubuh, seperti darah, adalah system koloid. Bahan makanan, seperti susu, keju, nasi, dan roti adalah system koloid.

SISTEM KOLOID

Sistem koloid (selanjutnya disingkat “koloid” saja) merupakan suatu bentuk campuran (sistem dispersi) dua atau lebih zat yang bersifat homogen namun memiliki ukuran partikel terdispersi yang cukup besar (1 – 100 nm), sehingga terkena efek Tyndall.

Bersifat homogen berarti partikel terdispersi tidak terpengaruh oleh gaya gravitasi atau gaya lain yang dikenakan kepadanya; sehingga tidak terjadi pengendapan, misalnya. Sifat homogen ini juga dimiliki oleh larutan, namun tidak dimiliki oleh campuran biasa (suspensi).

Koloid mudah dijumpai di mana-mana: susu, agar-agar, tinta, sampo, serta awan merupakan contoh-contoh koloid yang dapat dijumpai sehari-hari. Sitoplasma dalam sel juga merupakan sistem koloid. Kimia koloid menjadi kajian tersendiri dalam kimia industri karena kepentingannya.

SIFAT-SIFAT KOLOID

  • Efek Tyndall

Efek Tyndall ialah gejala penghamburan berkas sinar (cahaya) oleh partikel-partikel koloid. Hal ini disebabkan karena ukuran molekul koloid yang cukup besar. Efek tyndall ini ditemukan oleh John Tyndall (1820-1893), seorang ahli fisika Inggris. Oleh karena itu sifat itu disebut efek tyndall.

Efek tyndall adalah efek yang terjadi jika suatu larutan terkena sinar. Pada saat larutan sejati disinari dengan cahaya, maka larutan tersebut tidak akan menghamburkan cahaya, sedangkan pada sistem koloid, cahaya akan dihamburkan. hal itu terjadi karena partikel-partikel koloid mempunyai partikel-partikel yang relatif besar untuk dapat menghamburkan sinar tersebut. Sebaliknya, pada larutan sejati, partikel-partikelnya relatif kecil sehingga hamburan yang terjadi hanya sedikit dan sangat sulit diamati. Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering mengamati efek tyndall, antara lain:

  1. Sorot lampu mobil pada malam yang berkabut,
  2. Sorot lampu proyektor dalam gedung bioskop yang berasap/berdebu, dan
  3. Berkas sinar matahari melalui celah daun pepohonan pada pagi hari yang berkabut.
  • Gerak Brown

Gerak Brown ialah gerakan partikel-partikel koloid yang senantiasa bergerak lurus tapi tidak menentu (gerak acak/tidak beraturan). Jika kita amati koloid dibawah mikroskop ultra, maka kita akan melihat bahwa partikel-partikel tersebut akan bergerak membentuk zigzag. Pergerakan zigzag ini dinamakan gerak Brown. Partikel-partikel suatu zat senantiasa bergerak. Gerakan tersebut dapat bersifat acak seperti pada zat cair dan gas( dinamakan gerak brown), sedangkan pada zat padat hanya beroszillasi di tempat ( tidak termasuk gerak brown ). Untuk koloid dengan medium pendispersi zat cair atau gas, pergerakan partikel-partikel akan menghasilkan tumbukan dengan partikel-partikel koloid itu sendiri. Tumbukan tersebut berlangsung dari segala arah. Oleh karena ukuran partikel cukup kecil, maka tumbukan yang terjadi cenderung tidak seimbang. Sehingga terdapat suatu resultan tumbukan yang menyebabkan perubahan arah gerak partikel sehingga terjadi gerak zigzag atau gerak Brown.

Semakin kecil ukuran partikel koloid, semakin cepat gerak Brown yang terjadi. Demikian pula, semakin besar ukuran partikel koloid, semakin lambat gerak Brown yang terjadi. Hal ini menjelaskan mengapa gerak Brown sulit diamati dalam larutan dan tidak ditemukan dalam campuran heterogen zat cair dengan zat padat (suspensi). Gerak Brown juga dipengaruhi oleh suhu. Semakin tinggi suhu sistem koloid, maka semakin besar energi kinetik yang dimiliki partikel-partikel medium pendispersinya. Akibatnya, gerak Brown dari partikel-partikel fase terdispersinya semakin cepat. Demikian pula sebaliknya, semakin rendah suhu sistem koloid, maka gerak Brown semakin lambat.

  • Adsorpsi

Adsorpsi ialah peristiwa penyerapan partikel atau ion atau senyawa lain pada permukaan partikel koloid yang disebabkan oleh luasnya permukaan partikel. (Catatan : Adsorpsi harus dibedakan dengan absorpsi yang artinya penyerapan yang terjadi di dalam suatu partikel). Contoh : (i) Koloid Fe(OH)3 bermuatan positif karena permukaannya menyerap ion H+. (ii) Koloid As2S3 bermuatan negatif karena permukaannya menyerap ion S2.

Partikel koloid dapat mengadsorpsi bukan saja ion atau muatan listrik, tetapi dapat juga zat lain yang bermolekul netral. Oleh karena mempunyai permukaan yang relative luas, maka koloid mempunyai daya absorpsi yang besar pula. Sifat arbsorpsi dari koloid ini digunakan dalam berbagai proses, antara lain sebagai berikut.

  1. Pemutihan gula tebu

Gula yang masih berwarna dilarutkandalam air kemudian dialirkan melalui tanah diatomae dan arang tulang. Zat-zat warna dalam gulaakan diadsorpsi, sehingga diperoleh gula yang putih bersih.

  1. Norit

Norit adalah tablet yang terbuat dari karbon aktif. Didalam usus, norit membentuk sistem koloid yang dapat mengadsorpsi gas atau zat beracun.

  1. Penjernihan air

Untuk menjernihkan air dapat dilakukan dengan menambahkan tawas atau aluminum sulfat. Didalam air, aluminum sulfat terhidrolisis membentuk Al(OH)3 yang berupa koloid. Koloid Al(OH)3 inidapat menadsorpsi zat-zat warna atau zat pencerna dalam air.

  • Koagulasi Koloid

Koagulasi adalah penggumpalan partikel koloid dan membentuk endapan. Dengan terjadinya koagulasi, berarti zat terdispersi tidak lagi membentuk koloid. Koagulasi dapat terjadi secara fisik seperti pemanasan, pendinginan dan pengadukan atau secara kimia seperti penambahan elektrolit, pencampuran koloid yang berbeda muatan. Beberapa contoh koagulasi dalam kehidupan sehari-hari dan industry:

  1. Pembentukan delta dimuara sungai terjadi karena koloid tanah liat (lempung) dalam air sungai mengalami koagulasi ketika bercampur dengan elektrolit dalam air laut.
  2. Karet dalam lateks digumpalkan dengan menambahkan asam format
  3. Lumpur koloidal dalam air sungai dapat digumpalkan dengan menambahkan tawas. Sol tanah liat dalam air sungai biasanya bermuatan negative, sehingga akan digumpalkan oleh ion Al3+dari tawas (aluminum sulfat)
  4. Asap atau debu dari pabrik/industry dapat digumpalkan dengan alat koagulasi listrik dari cottrel.
  • Koloid pelindung

Koloid pelindung ialah koloid yang mempunyai sifat dapat melindungi koloid lain dari proses koagulasi.

  • Dialysis

Dialisis ialah pemisahan koloid dari ion-ion pengganggu dengan cara ini disebut proses dialisis. Yaitu dengan mengalirkan cairan yang tercampur dengan koloid melalui membran semi permeable yang berfungsi sebagai penyaring. Membran semi permeable ini dapat dilewati cairan tetapi tidak dapat dilewati koloid, sehingga koloid dan cairan akan berpisah.

  • Elektroforesis

Partikel koloid dapat bergerak dalam medan listrik. Hal ini menunjukkan bahwa partikel koloid bermuatan listrik. Pergerakan partikel koloid dalam medan listrik ini disebut elektroforesis. Apabila kedalam sistem koloid di masukkan dua batang electrode kemudian dihubungkan dengan sumber arus searah, maka partikel koloid akan bergerak ke salah satu electrode bergantung pada jenis muatannya. Koloid bermuatan negative akan bergerak ke anode (electrode positif) sedangkan koloid yang bermuatan positif bergerak ke katode (elektro negative). Elektroforesis menjadi salah satu cara y6ang canggihuntuk identifikasi DNA (seperti yang dilakukan untuk mengidentifikasi korban/pelaku peristiwa ledakan bom).

JENIS-JENIS KOLOID

Pada awal penjelasan telah disebutkan bahwa sistem koloid terdiri atas dua fase, yaitu fase terdispersi dan fase pendispersi (medium disperse). Penggolongan suatu sistem koloid didasarkan pada jenis fase terdispersi dan pendispersinya tersebut. Koloid yang mengandung fase terdispersi padat disebut sol. Ada 3 jenis sol, yaitu sol padat (padat dalam padat), sol cair (padat dalam cair), dan sol gas (padat dalam gas). Istilah sol biasa digunakan untuk menyatakan sol cair, sedangkan sol gas lebih dikenal sebagai aerosol (aerosol padat). Koloid yang mengandung fase terdispersi cair disebut emulsi. Emulsi juga ada 3 jenis, yaitu emulsi padat (cair dalam padat), emulsi cair (cair dalam cair), dan emulsi gas (cair dalam gas). Istilah emulsi biasa digunakan untuk menyatakan emulsi cair, sedangkan emulsi gas juga dikenal dengan nama aerosol (aerosol cair). Koloid yang mengandung fase terdispersi gas disebut buih. Hanya ada 2 jenis buih, yaitu buih padat dan buih cair. Campuran antara gas dengan gas selalu bersifat homogen jadi merupakan larutan, bukan koloid. Istilah buih biasa digunakan untuk menyatakan buih cair. Dengan demikian, ada delapan jenis koloid, seperti yang tercantum pada table berikut ini.

Terdispersi Pendispersi Sistem koloid Contoh
Padat Sol padat Campuran logam, kaca berwarna, permata
Padat Cair Sol Kanji, tinta, cat, sol emas, sol belerang, sol Fe(OH)3
Gas Aerosol padat Asap, debu
Padat Emulsi padat Keju, mentega, mutiara, selai, agar-agar, gelatin.
Cair Cair Emulsi Susu, minyak ikan, mayones, coklat cair
Gas Aerosol Kabut, awan, hairspray
Gas Padat Buih  padat Batu apung, karet busa
cair Buih Busa sabun, krim kocok
  1. a.      Aerosol

Asap merupakan salah satu contoh aerosol yang sering dijumpai

Sistem koloid dari partikel padat atau cair yang terdispersi dalam gas disebut aerosol. Jika zat yang terdispersi berupa zat padat, disebut aerosol padat, jika zat yang terdispersi berupa zat cair, disebut aerosol cair. Dewasa ini banyak produk dibuat dalam bentuk aerosol, seperti semprot rambut (hairspray), semprot obat nyamuk, parfum, cat semprot, dan lain-lain. Untuk menghasilkan aerosol diperlukan suatu bahan pendorong (propelan aerosol). Contoh bahan pendorong yang banyak digunakan adalah klorofluorokarbon CFC dan karbondioksida.

  1. b.      Sol

Tinta tulis, salah satu contoh sol

Sistem koloid dari partikel padat yang terdispersi dalam zat cair disebut sol. Koloid jenis sol banyak kita temukan dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam industry.

Contoh sol:         air sungai (sol dari lempung dalam air), sol sabun, sol detergen, sol kanji, tinta tulis, dan cat.

  1. c.       Emulsi

Mayonnaise merupakan salah satu bentuk emulsi

Sistem koloid dari zat cair yang terdispersi dalam zat cair lain disebut emulsi. Syarat terjadinya emulsi ini adalah kedua jenis zat cair itu tidak saling melarutkan. Emulsi terbentuk karena pengaruh suatu pengemulsi (emulgator). Contohnya adalah sabun yang dapat mengemulsikan minyak kedalam air. Jika campuran minyak dan air dikocok, maka akan diperoleh suatu campuran yang segera memisah jika didiamkan. Akan tetapi, jika sebelum dikocok ditambahkansabun atau detergen , maka diperoleh campuran yang stabil yang kita sebut emulsi. Contoh pengemulsi lainnya adalah kasein dalam susu dan kuning telur dalam mayonnaise.

  1. d.      Buih

Buih Sabun

Sistem koloid dari gas yang terdispersi dalam zat cair disebut buih. Buih dapat dibuat dengan mengalirkan suatu gas kedalam zat cair yang mengandung pembuih. Buih digunakan pada berbagai proses, misalnya, pada pengolahan biji logam, pada alat pemadam kebakaran, kosmetik dan lain-lain. Zat pemecah buih disebut agen anti buih (defoaming agent).

 

  1. e.      Gel

Agar-agar

Koloid yang setengah kaku (antara padat dan cair) disebut gel. Contoh : agar-agar, lem kanji, selai, gelatin, gel sabun, dan gel silica. Gel dapat terbentuk dari suatu sol yang zat terdispersinya mengadsorpsi medium dispersinya, sehingga terjadi koloid yang agak padat.

KOLOID LIOFIL DAN KOLOID LIOFOB

Koloid yang medium dispersinya cair dibedakan atas koloid liofil dan koloid liofob. Suatu koloid disebut koloid liofil apabila terdapat gaya tarik-menarik yang cukup besar antara zat terdispersi dengan mediumnya. Liofil berarti suka cairan (Yunani lio = cairan, philia = suka). Sebaliknya, suatu koloid disebut koloid liofob jika gaya tari-menarik tersebut tidak ada atau sangat lemah. Liofob berarti takut cairan (Yunani = phobia = takut/benci). Jika medium disperse yang dipakai adalah air, maka kedua jenis koloid diatas masing-masing disebut koloid hidrofil dan koloid hidrofob.

Koloid hidrofil mempunyai gugus ionic atau gugus polar di permukaannya, sehingga mempunyai interaksi yang baik dengan air. Butir-butir koloid liofil/hidrofil dapat mengadsorpsi molekul mediumnya, sehingga membentuk suatu selubung atau jaket. Hal tersebut disebut solvatasi/hidratasi. Dengan cara itu, butir-butir koloid tersebut terhindar dari agregasi.

Contoh:

Koloid hidrofil    : protein, sabun, detergen, agar-agar, kanji, dan gelatin.

Koloid hidrofob : susu, mayonnaise, sol belerang, sol Fe(OH)3, sol-sol sulfide, dan sol-sol logam.

Sol hidrofil tidqak akan menggumpal pada penambahan sedikit elektrolit. Zat terdispersi dari sol hidrofil dapat dipisahkan dengan pengendapan atau penguapan. Apabila zat padat tersebut dicampurkan kembali dengan air, maka dapat membentuk kembali sol hidrofil. Dengan kata lain sol hidrofil bersifat reversible. Koloid hidrofob tidak akan stabil dalam medium polar (seperti air) tanpa kehadiran zat pengemulsi atau koloid pelindung. Zat pengemulsi membungkus partikel koloid hidrofob, sehingga terhindar dari koagulasi. Susu (emulsi lemak dalam air) distabilkan oleh sejenis protein susu, yaitu kasein; sedangkan mayonnaise (emulsi minyak nabati dalam air) distabilkan oleh kuning telur. Sol hidrofob dapat mengalami koagulasi pada penambahan sedikit elektrolit. Sekali zat terdispersi telah dipisahkan, tidak akan membentuk sol lagi jika cicampur lagi dengan air. Perbedaan sol hidrofil dengan sol hidrofob disimpulkan pada table dibawah ini.

Sol hidrofil

Sol hidrofob

Mengadsorpsi mediumnya

Dapat dibuat dengan konsentrasi yang relative besar

Tidak mudah digumpalkan dengan penambahan elektrolit.

Viskositas lebih besar daripada mediumnya.

Bersifat reversible

Efek tyndall lemahTidak mengadsorpsi mediumnya

Hanya stabil pada konsentrasi kecil.

Mudah menggumpal pada penambahan elektrolit

Viskositas hamper sama dengan mediumnya

Tidak reversibble

Efek tyndall lebih jelas

PEMBUATAN SISTEM KOLOID

Ukuran partikel koloid terletak antara partikel larutan sejati dan partikel suspense. Oleh karena itu, sistem koloid dapat dibuat dengan pengelompokan (agregasi) partikel larutan sejati atau menghaluskan bahan dalam bentuk kasar kemudian didispersikan ke dalam medium disperse. Cara yang pertama disebut kondensasi, sedangkan yang kedua disebut cara disperse.

  1. 1.      Cara Kondensasi

Dengan cara kondensasi, partikel larutan sejati (molekul atau ion) bergabung menjadi partikel koloid. Cara ini dapat dilakukan melalui reaksi-reaksi kimia, seperti reaksi redoks, hidrolisis, dan dekomposisi rangkap, atau dengan pergantian pelarut.

  1. Reaksi redoks

Reaksi redoks adalah reaksi yang disertai perubahan bilangan oksidasi.

Contoh:                Pembuatan sol belerang dari reaksi antara hydrogen sulfide (H2s) dengan belerang dioksida (SO2), yaitu dengan mengalirkan gas H2s ke dalam larutan SO2.

2 H2s(g) + SO2.(aq)              2H2o(l) + 3s(koloid)

  1. Hidrolisis

Hidrolisis adalah reaksi suatu zat dengan air.

Contoh:                pembuatan sol Fe(OH)3 dari hidrolisis FeCl3. Apabila ke dalam air mendidih ditambahkan larutan sol FeCl3 akan terbentuk sol Fe(OH)3.

FeCl3(aq) + 3H2O(l)                   Fe(OH)3(koloid) + 3hcl(aq)

  1. Dekomposisi rangkap

Contoh:                sol AgCl dapat dibuat dengan mencampurkan larutan perak nitrat encer dengan larutan HCL encer.

AgNO3(aq) + HCL(aq)              AgCl(koloid + HNO3

  1. Penggantian pelarut

Selain dengan cara-cara kimia seperti diatas, koloid juga dapat terbentuk dengan penggantian pelarut.

Contoh:                apabila larutan jenuh kalsium asetat dicampur dengan alcohol akan terbentuk uatu koloid berupa gel.

  1. 2.      Cara Dispersi

Dengan cara disperse, partikel kasar dipecah menjadi partikel koloid. Cara disperse dapat dilakukan secara mekanik, peptisasi atau dengan loncatan bunga listrik (cara busur bredig).

  1. Cara mekanik

Menurut cara ini, butir-butir kasar digerus dengan lumping atau penggiling koloid sampai diperoleh tingkat kehalusan tertentu, kemudian diaduk dengan medium disperse.

Contoh:                sol belerang dapat dibuat dengan menggerus serbuk belerang bersama-sama dengan suatu zat inert (seperti gula pasir), kemudian mencampur serbuk halus itu dengan air.

  1. Cara peptisasi

Cara peptisasi adalah pembuatan koloid dari butir-butir kasar atau dari suatu endapan dengan bantuan suatu zat pemeptisasi (pemecah). Zat pemeptisasi memecahkan butir-butir kasar menjadi butir-butir koloid. Istilah peptisasi dikaitkan dengan peptonisasi, yaitu proses pemecahan protein (polipeptida) yang dikatalisis oleh enzim pepsin.

Contoh : agar-agar dipeptisasi oleh air, nitroselulosa oleh aseton, karet oleh bensin, dan lain-lain. Endapan NiS dipeptisasi oleh H2S dan endapan Al(OH)3 dipeptisasi oleh AlCl3.

  1. Cara Busur Bredig

Cara busur bredig digunakan untuk membuat sol-sol logam. Logam yang akian dijadikan koloid digunakan sebagai electrode yang dicelupkan ke dalam medium disperse, kemudian diberi loncatan listrik diantara kedua ujungnya. Mula-mula atom-atom logam akan terlempar kedalam air, lalu atom-atom tersebut mengalami kondensasi, sehingga membentuk partikel koloid. Jadi, cara busur ini merupakan gabungan cara disperse dan cara kondensasi.

  1. Koloid Asosiasi

Berbagai jenis zat, seperti sabun dan detergen, larut dalam air tetapi tidak membentuk larutan, melainkan koloid. Molekul sabun atau detergen terdiri atas bagian yang polar (disebut kepala) dan bagian yang non polar (disebut ekor).

Kepala sabun merupakan gugus yang hidrofil (tertarik ke air), sedangkan gugus hidrokarbon bersifat hidrofob (takut air). Jika sabun dilarutkan ke dalam air, maka molekul-molekul sabun akan mengadakan asosiasi dan orientasi karena gugus non polarnya (ekor) saling terdesak, sehingga terbentuk partikel koloid. Bagian kepala yang hidrofil dari molekul sabun menghadap ke air, dan bagian ekornya yang hidrofob berkumpul menghadap ke dalam.

Daya pengemulsi dari sabun dan detergen juga disebabkan oleh aksi yang sama. Gugus non polar dari sabun akan menarik partikel kotoran (lemak) dari bahan cucian kemudian mendispersikannya ke dalam air.

Sebagai bahan pencuci, sabun dan detergen bukan saja berfungsi sebagai pengemulsi tetapi juga sebagai pembasah atau penurun tegangan permukaan. Air yang mengandung sabun atau detergen mempunyai tegangan permukaan yang lebih rendah, sehingga lebih mudah meresap pada bahan cucian.

  1. Koloid dan Polusi

Berbagai masalah lingkungan terkait dengan koloid, diantaranya asbut. Sebanyak 4000 orang meninggal dalam kasus asbut di London pada tahun 1952. Asbut adalah campuran yang rumit yang terdiri atas berbagai gas dan partikel-partikel zat cair dan zat padat. Asbut (smog) merupakan kombinasi dari asap (smoke) dank abut (fog).

Kabut sendiri merupakan disperse partikel air dalam udara. Kabut terjadi jika udara panas yang mengandung uap air tiba-tiba mengalami pendinginan, sehingga sebagian uap air tersebut mengalami kondensasi. Jika asap bergabung dengan kabut, maka kabut akan menghalangi asap naik. Akibatnya, asap tetap berada disekitar kita dan kita menghirupnya.

Asap mengandung partikel yang dapat mengiritasi paru-paru dan membuat kita batuk. Asap juga mengandung belerang dioksida (SO2). Gas ini dapat bereaksi dengan oksigen dan uap air membentuk asam sulfat. Asam sulfat akan mengiritasi paru-paru, sehingga menghasilkan banyak lender. Asam sulfat ini juga merupakan salah satu penyebab terjadinya hujan asam.

Selain itu, asbut mengandung berbagai jenis gas yang terbentuk dari serentetan reaksi fotokimia (yaitu reaksi kimia yang berlangsung dibawah pengaruh sinar matahari). Diantaranya, yaitu ozon, aldehida, dan peroksiasetil nitrat (PAN = CH3-COOONO2).

DAFTAR PUSTAKA

Purba, Michael. 2007. Kimia untuk SMA Kelas XI. Jakarta: Erlangga

http://www.wikipedia.org / pengertian sistem koloid / koloid

http://www.google.co.id / search koloid / koloid dan sistem koloid

http://www.google.co.id / search jenis-jenis koloid / jenis-jenis koloid

http://www.google.co.id / search pembuatan koloid / teknik pembuatan koloid dan penerapannya.